Jumat, 16 November 2012

Tugas Softskill

bab 6




 SIKAP , MOTIVASI dan KONSEP DIRI

A. KOMPONEN SIKAP
Komponen yang secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude) yaitu :
a. Kognitif (cognitive)
          Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu.
b. Afektif (affective)
       Menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu.
c. Konatif (conative)
       Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi.
B. SIFAT – SIFAT SIKAP
                                Sikap memiliki beberapa karakteristik, antara lain:
1. arah,
2. intensitas,
3. keluasan,
4. konsistensi dan spontanitas (Assael, 1984 dan Hawkins dkk, 1986)
       Karakteristik dan arah menunjukkan bahwa sikap dapat mengarah pada persetujuan atau tidaknya individu, mendukung atau menolak terhadap objek sikap. Karakteristik intensitas menunjukkan bahwa sikap memiliki derajat kekuatan yang pada setiap individu bisa berbeda tingkatannya. Karakteristik keluasan sikap menunjuk pada cakupan luas mana kesiapan individu dalam merespon atau menyatakan sikapnya secara spontan. Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu bentuk evaluasi perasaan dan kecenderungan potensial untuk bereaksi yang merupakan hasil interaksi antara komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling bereaksi didalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu objek.
C. Penggunaan Multiatribut Attitude Modal Untuk Memahami Sikap Konsumen
            Pengukuran sikap yang paling populer digunakan oleh para peneliti konsumen adalah model multi atribut yang terdiri dari tiga model :
1.The attittude toward-object model
                Digunakan khususnya menilai sikap konsumen terhadap satu kategori produk atau merk spesifik. Hal ini untuk menilai fungsi kehadiran dan evaluasi terhadap sesuatu.Pembentukan sikap konsumen yang dimunculkan karena telah merasakan sebuah objek. Hal ini mempengaruhi pembentukan sikap selanjutnya.
2.The attittude toward-behavior model
       Lebih digunakan untuk menilai tanggapan konsumen melalui tingkah laku daripada sikap terhadap objek. Pembentukan sikap konsumen akan ditunjukan berupa tingkah laku konsumen yang berupa pembelian ditempat itu.
3.The theory of reasoned-action model
       Menurut teori ini pengukuran sikap yang tepat seharusnya didasarkan pada tindakan pembelian atau penggunaan merk produk bukan pada merek itu sendiri tindakan pembelian dan mengkonsumsi produk pada akhirnya akan menentukan tingkat kepuasan.
D. Pentingnya Feeling Dalam Memahami Sikap Konsumen
       Seseorang tidak dilahirkan dengan sikap dan pandangannya, melainkan sikap tersebut terbentuk sepanjang perkembangannya. Dimana dalam interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya (Azwar, 1995).Loudon dan Bitta (1984) menulis bahwa sumber pembentuk sikap ada empat, yakni pengalaman pribadi, interaksi dengan orang lain atau kelompok , pengaruh media massa dan pengaruh dari figur yang dianggap penting. Swastha dan Handoko (1982) menambahkan bahwa tradisi, kebiasaan, kebudayaan dan tingkat pendidikan ikut mempengaruhi pembentukan sikap. Dari beberapa pendapat di atas, Azwar (1995) menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu.
a.Pengalaman pribadi
       Middlebrook (dalam Azwar, 1995) mengatakan bahwa tidak adanya pengalaman yang dimiliki oleh seseorang dengan suatu objek psikologis, cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut. Sikap akan lebih mudah terbentuk jika yang dialami seseorang terjadi dalam situasi yang melibatkan emosi, karena penghayatan akan pengalaman lebih mendalam dan lebih lama membekas.
b.Pengaruh orang lain yang dianggap penting
       Individu pada umumnya cenderung memiliki sifat yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting yang didorong oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik.
c.Pengaruh kebudayaan
       Burrhus Frederic Skin, seperti yang dikutip Azwar sangat menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk pribadi seseorang. Kepribadian merupakan pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement yang kita alami (Hergenhan dalam Azwar, 1995). Kebudayaan memberikan corak pengalaman bagi individu dalam suatu masyarakat. Kebudayaanlah yang menanamkan garis pengarah sikapindividuterhadapberbagaimasalah.
d.Media massa
       Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Media massa memberikan pesan-pesan yang sugestif yang mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Jika cukup kuat, pesan-pesan sugestif akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.      
e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama
       Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai sesuatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya. Dikarenakan konsep moral dan ajaran agama sangat menetukan sistem kepercayaan maka tidaklah mengherankan kalau pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperanan dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal. Apabila terdapat sesuatu hal yang bersifat kontroversial, pada umumnya orang akan mencari informasi lain untuk memperkuat posisi sikapnya atau mungkin juga orang tersebut tidak mengambil sikap memihak. Dalam hal seperti itu, ajaran moral yang diperoleh dari lembaga pendidikan atau lembaga agama sering kali menjadi determinan tunggal yang menentukan sikap.
f.Faktor emosional
       Suatu bentuk sikap terkadang didasari oleh emosi, yang berfungsi sBAebagai semacam penyaluran prustrasi atau pengalihan bentuk mekamisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu prustrasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama.
E. Penggunaan Sikap & Maksud Untuk Memperkirakan Perilaku Konsumen
 
      Werner dan Pefleur (Azwar, 1995) mengemukakan 3 postulat guna mengidentifikasikan tiga pandangan mengenai hubungan sikap dan perilaku, yaitu postulat of consistency, postulat of independent variation, dan postulate of contigent consistency.
     Berikut ini penjelasan tentang ketiga postulat tersebut :
a.Postulat Konsistensi
       Postulat konsistensi mengatakan bahwa sikap verbal memberi petunjuk yang cukup akurat untuk memprediksikan apa yang akan dilakukan seseorang bila dihadapkan pada suatu objek sikap. Jadi postulat ini mengasumikan adanya hubungan langsung antara sikap danperilaku.
b.PostulatVariasiIndependen
     Postulat ini mengatakan bahwa mengetahui sikap tidak berarti dapat memprediksi perilaku karena sikap dan perilaku merupakan dua dimensi dalam diri individu yang berdiri sendiri, terpisah dan berbeda.
c.PostulatKonsistensiKontigensi
     Postulat konsistensi kontigensi menyatakan bahwa hubungan sikap dan perilaku sangat ditentukan oleh faktor-faktor situasional tertentu. Norma-norma, peranan, keanggotaan kelompok dan lain sebagainya, merupakan kondisi ketergantungan yang dapat mengubah hubungan sikap dan perilaku. Oleh karena itu, sejauh mana prediksi perilaku dapat disandarkan pada sikap akan berbeda dari waktu ke waktu dan dari satu situasikesituasilainnya.
  Postulat yang terakhir ini lebih masuk akal dalam menjelaskan hubungan sikap dan perilaku.
F. Dinamika Proses Motivasi
            Kata motivasi berasal dari Bahasa Inggris adalah “Motivation”. Perkataan asalnya ialah “Motive” yang juga telah dipinjam oleh Bahasa Melayu atau Bahasa Malaysia kepada “Motif” yang artinya tujuan. Jadi, motivasi adalah sesuatu yang menggerakan atau mengarahkan tujuan seseorang dalam tindakan-tindakannya secara negatif atau positif untuk mencapai tujuannya. Selain itu, ada tiga elemen utama dalam motivasi antara lain : intensitas, arah, dan ketekunan.
       A. Pengertian motivasi menurut beberapa ahli :
1.Menurut Cropley (1985)
     Motivasi dapat dijelaskan sebagai “tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku         tertentu”.
2. Menurut Wlodkowski (1985)
               menjelaskan, motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Pengertian ini jelas bernafaskan behaviorisme (teori belajar dan percaya bahwa semua perilaku yang diperoleh sebagai hasil dari pengkondisian).
B.Proses motivasi :
            1. tujuan.
          Perusahaan harus bias menentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai, baru kemudian konsumen dimotivasi ke arah itu.
            2. mengetahui kepentingan
          Perusahaan harus bisa mengetahui keinginan konsumen tidak hanya dilihat dari kepentingan perusahaan semata
            3. komunikasi efektif.
                        Melakukan komunikasi dengan baik terhadap konsumen agar konsumen dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan apa yang bisa mereka dapatkan.
            4. integrasi tujuan.
        Proses motivasi perlu untuk menyatukan tujuan perusahaan dan tujuan kepentingan konsumen. Tujuan perusahaan adalah untuk mencari laba serta perluasan pasar. Tujuan individu konasumen adalah pemenuhan kebutuhan dan kepuasan.kedua kepentingan di atas harus disatukan dan untuk itu penting adanya.
            5. fasilitas.
        Perusahaan memberikan fasilitas agar konsumen mudah mendapatkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.
G. Kegunaan & Stabilitas Pola Motivasi
       Motivasi menurut American Encyclopedia adalah kecenderungan (suatu sifat yang merupakan pokok pertentangan) dalam diri sesoerang yang membangkitkan topangan dan tindakan. Motivasi meliputi factor kebutuhan biologis dan emosional yang hanya dapat diduga dari pengamatan tingkah laku manusia.
     Dengan demikian motivasi dapat diartikan sebagai pemberi daya penggerak yang menciptakan kegairahan seseorang agar mereka mau bekerjasama,bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan.motivasi konsumen adalah keadaan di dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan guna mencapai suatu tujuan.
            Dengan adanya motivasi pada diri seseorang akan menunjukkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu tujuan untuk mencapai sasaran kepuasan. Jadi motivasi adalah proses untuk mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang diinginkan. Motivasi konsumen yang dilakukan oleh produsen sangat erat sekali berhubungan dengan kepuasan konsumen. Untuk itu perusahaan selalu berusaha untuk membangun kepuasan konsumen dengan berbagai kebutuhan dan tujuan dalam konteks perilaku konsumen mempunyai peranan penting karena motivasi timbul karena adanya kebutuhan yang belum terpenuhi dan tujuan yang ingin dicapai.kebutuhan menunjukkan kekurangan yang dialami seseorang pada suatu waktu tertentu. Kebutuhan dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku. Artinya jika kebutuhan akibat kekurangan itu muncul, maka individu lebih peka terhadap usaha motivasi para konsumen.
H. Memahami Kebutuhan Konsumen
            Kebutuhan konsumen dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. fisiologis.
     Dasar-dasar kelangsungan hidup, termasuk rasa lapar, haus dan kebutuhan hidup lainnya.
2. keamanan.
     Berkenaan dengan kelangsungan hidup fisik dan keamanan
3. afiliasi dan pemilikan.
     Kebutuhan untuk diterima oleh orang lain, menjadi   orang penting bagi mereka.
4. prestasi.
     Keinginan dasar akan keberhasilan dalam memenuhi tujuan pribadi
5. kekuasaaan. 



Sumber : http://aryabiramapunya.blogspot.c

Tugas Softskill


BAB 5
PEMBELIAN

       I.            Proses Keputusan Membeli

Konsumen adalah seseorang yang menggunakan suatu produk untuk memenuhi kebutuhannya. Perilaku konsumen yang teramati dari perilaku pembelian konsumen merupakan salah satu tahap dari proses pembuatan atau pengambilan keputusan konsumen (Consumen Decision Making). Keputusan konsumen untuk membeli atau tidak membeli suatu produk atau jasa merupakan saat yang penting bagi pemasar. Keputusan ini dapat menandai apakah suatu strategi pemasaran telah cukup bijaksana, berwawasan luas, dan efektif, atau apakah kurang baik direncanakan atau keliru menetapkan sasaran. Pengambilan keputusan pembelian konsumen terhadap suatu produk diawali oleh adanya kesadaran atas pemenuhan kebutuhan dan keinginannya. Setelah menyadari kebutuhan dan keinginannya, konsumen akan mencari informasi mengenai keberadaan produk yang diinginkan. Proses pencarian informasi ini akan dilakukan dengan mengumpulkan semua informasi yang berhubungan dengan produk yang telah diinginkan oleh konsumen.

Dari berbagai informasi yang diperoleh konsumen melakukan seleksi atas suatu barang yang akan dibelinya. Selanjutnya dengan menggunakan berbagai kriteria yang ada dalam benak konsumen, salah satu merek produk dipilih untuk dibeli.
Contohnya adalah :

·         Melakukan pembelian atau tidak melakukan pembelian
·         Membeli merk A atau merk B

Dan jika konsumen tidak mempunyai alternatif pilihan dan terpaksa melakukan pembelian produk tertentu (misalnya obat dengan resep dokter), maka keadaan ini bukan merupakan suatu keputusan.

Tingkat Pengambilan keputusan konsumen terbagi menjadi 3, yaitu :

1.      Pemecahan masalah yang mendalam (luas)

Konsumen tidak mempunyai kriteria tertentu untuk menilai kategori produk atau merk tertentu dalam kategori tersebut atau tidak membatasi jumlah merk yang dipertimbangkan. Konsumen membutuhkan informasi untuk menetapkan kriteria guna menilai merk-merk atas berbagai barang yang akan dipilihnya

2.      Pemecahan Masalah yang Terbatas

Konsumen telah menetapkan kriteria dasar untuk menilai kategori produk dan berbagai merk dalam kategori tersebut. Tetapi konsumen belum sepenuhnya menetapkan pilihan terhadap merk. Masih diperlukan informasi untuk mengetahui perbedaan diantara merk-merk yang ada dan membandingkan beberapa produk barang yang di sesuaikan dengan pilihan konsumen tersebut.

3.      Perilaku Respon yang Rutin.

Konsumen sudah mempunyai pengalaman mengenai kategori produk dan kriteria yang ditetapkan untuk menilai berbagai merk yang dipertimbangkan. Mungkin konsumen mencari informasi tambahan atau meninjau kembali apa yang telah diketahui. Dengan mempertimbangkan barang yang satu dengan yang lain maka konsumen akan mengetahui perbedaan dari barang yang diseleksinya, yang berguna bagi konsumen.

Dalam pengambilan keputusan pembelian ini menghasilkan beberapa pandangan.
4 pandangan mengenai pengambilan keputusan tersebut adalah :

1.      Pandangan Ekonomi : Untuk berperilaku rasional dalam arti ekonomi, konsumen harus :

a.      Mengetahui semua alternatif produk yang tersedia, dan apa saja
b.      Mampu mempersingkat setiap alternatif secara tepat dari segi keuntungan dan kerugiannya.
c.       Mampu mengenali alternatif yang terbaik dalam melakukan pembelian.

2.      Pandangan Pasif

Pandangan ini berlawanan dengan pandangan ekonomi yang rasional. Pandangan pasif menggambarkan konsumen sebagai orang yang pada dasarnya tunduk pada kepentingan melayani diri dan usaha promosi para pemasar. Konsumen dianggap pembeli yang menurutkan pada kata hati dan irasional.

Keterbatasan model Pasif, gagal mengenali bahwa konsumen memainkan peran yang sama, bahkan dominan dalam berbagai situasi pembelian. Misalnya, konsumen mencari berbagai alternatif produk dan memilih produk yang memberikan kepuasan terbesar atau membeli produk yang memuaskan hati pada saat tertentu. Pandangan Pasif ini akhirnya ditolak karena dianggap tidak realistis.

3.      Pandangan Kognitif

Menggambarkan kosnumen sebagai pemecah masalah dengan cara berpikir Konsumen digambarkan mau menerima dan dengan aktif mencari produk dan jasa yang memenuhi kebutuhan mereka.

Model Kognitif fokus pada prosese konsumen mencari dan menilai informasi mengenai merk dan saluran ritel yang dipilih.

Dalam pandangan kognitif, meskipun konsumen tidak mempunyai informasi yang lengkap/mutlak mengenai alternatif berbagai produk, sehingg pengambilan keputusan belum sempurna, tetapi karena aktif mencari informasi maka sudah berusaha mengambil keputusan yang memuaskan.

4.      Pandangan Emosional

Pengambilan keputusan emosional atau impulsif, yaitu seorang konsumen yang dalam melakukan pembelian hanya sedikit perhatian diberikan untuk mencari informasi, lebih menekankan pada suara hati dan persaan yang timbul saat itu. Keputusan yang emosional tidak berarti tidak rasional.
Contoh : Jika membeli sepatu harus bermerk terkenal (emosional)karena merk terkenal biasanya awet (rasional).

     II.            Memilih Altenatif Terbaik

A.      Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian :

Setelah konsumen menerima pengaruh pada kehidupannya maka mereka sampai pada keputusan membeli atau tidak membeli produk. Pemasar dianggap berhasil apabila pengaruh-pengaruh yang diberikan mengahasilkan pembelian atau telah dikonsumsi oleh konsumen. Keputusan konsumen, tingkatan-tingkatan dalam pengambilan keputusan, serta pengambilan keputusan dari sudut pandang yang berbeda bukan hanya untuk menyangkut keputusan untuk membeli, melainkan untuk disimpan dan dimiliki oleh konsumen.

B.      Konsep Keputusan

Keputusan adalah suatu pemilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Bila seseorang dihadapkan pada dua pilihan, antara membeli dan tidak membeli, maka dia ada dalam posisi untuk membuat keputusan. Setiap orang dalam satu hari akan mengambil keputusan tanpa disadari, dalam proses pengambilan keputusan konsumen harus melakukan pemecahan masalah dalam kebutuhan yang dirasakan dan keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dengan konsumsi produk dan jasa yang sesuai.

1.      Pengambilan Keputusan Pada Konsumen.

·         Sadar akan kebutuhan
·         Mencari informasi sebelum membeli
·         Mengevaluasi alternative

2.      Perilaku Setelah Keputusan Pembelian.

·         Percobaan
·         Pembelian ulang

3.      Aspek-aspek Pemilihan Keputusan.

·         Produk yang murah – produk yang lebih mahal
·         Pembelian yang sering – pembelian yang jarang.
·         Keterlibatan rendah – keterlibatan tinggi
·         Kelas produk merek kurang terkenal – kelas produk merek terkenal


  1. Memilih Sumber – Sumber Pembelian

Pengertian sumber daya ekonomi adalah potensi ekonomi pada dasarnya dapat diartikan pada sesuatu atau segala sesuatu sumber daya yang dimiliki baik yang tegolong sumber daya alam (natural resources) ataupun potensi sumber daya manusia yang dapat memberikan manfaat (Benefit) serta dapat digunakan dalam pembangunan ekonomi  Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, jenis sumber daya ini meliputi sumber daya alam yang mensuplai energi, seperti batubara, minyak, dan gas alam.

1.      Sumber daya pembelian sementara.

Barang yang menggunakan waktu : produk yang memerlukan pemakaian waktu dalam mengkonsumsinya, contohnya : menonton T.V, Pembelian makanan, Pembelian pulsa, produk yang dijual dipasaraan tidak juga  di jual di pasar yang besar, namun juga dapat di jual di pasar umum yang bisa di bilang pembelinya adalah konsumen dengan berpenghasilan rendah, hal ini dilakukan agar produk dapat terjangkau oleh masyarakat umum dari kalangan bawah namun mutunya juga berkualitas. Contoh : produk sampo sachet-an  di jual di supermarket jarang ditemukan dan tidak bisa dibeli satuan, namun di minimarket dan warung rumahan dapat ditemukan, hal ini dilakukan ini agar segala kalangan dapat memperolehnya. Dengan cara ini maka masyarakat kalangan bawah dapat juga merasakan produk yang berkualitas namun harganya terjangkau dari harga yang ada di pasar-pasar besar.
2.      Sumberdaya konsumen dan pengetahuan :

Pengetahuan konsumen di dalam tiga bidang umum, yaitu:

a.      Pengetahuan produk (product knowledge)

Bagaimana konsumen memahami seluk beluk dari barang yang akan dibelinya atau mencari informasi dari barang tersebut agar mengetahui produk barang.

b.      Pengetahuan pembelian (purchase knowledge)

Bagaimana pengaturan atau cara konsumen dalam membeli suatu barang, perhatian akan harga yang apa saja yang harus diperhatikan untuk barang tersebut.

c.       Pengetahuan pemakaian (usage knowledge)

Konsumen harus mengerti tentang pemakaian dari kegunaan, kelebihan, dan akibat atas barang yang akan dipakainya.

d.      Mengukur pengetahuan

Kemampuan konsumen dalam mengumpulkan berbagai informasi tentang definisi  dari produk yang di konsumsinya sebalum membeli, akan membuat konsumen semakin hati-hati  dalam menyeleksi segala hal yang berhubungan dengan pembelian produk. Kemampuan konsumen ini akan menjadi modal dalam pembelian berikutnya. Contoh : konsumen yang memiliki brosur tentang macam-macam produk seperti brosur kredit motor, maka konsumen akan melakukan seleksi terhadap produk motor di showroom-showroom motor lainnya dengan membandingkan harga, uang muka dan cicilannya.








Sumber : http://dodipermadi.wordpress.com

Selasa, 23 Oktober 2012

LATAR BELAKANG

Latar Belakang Masalah

Indonesia sudah lebih 30 tahun memikirkan rakyat miskin melalui pembinaan usaha kecil. Bahkan saat ini sudah membina pengusaha mikro. Tapi ujungnya, dalam bentuk kesejahteraan rakyat miskin tak kunjung datang. Ada apa dengan Indonesia.

Coba lihat kebijakan yang dijalankan pemerintah Indonesia dalam menanggulangi rakyat miskin. Pemerintah tidak memberdayakan rakyat miskin dalam pembinaan yang produktif tetapi mengimimg imingnya dengan bantuan tunai langsung (BTL) yang sifatnya konsumtif. Rakyat miskin tidak dibina kekuatannya tetapi disuruh tidur dengan mengiming imingnya dengan pemberian uang.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Syarief Hasan mengatakan akses kemudahan memperoleh kredit merupakan kendala utama bagi UKM. Pengusaha kecil justru tak mempermasalahkan tingginya bunga KUR.
"Bunga bukan prioritas bagi UKM," ujar Hasan di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu 3 Oktober 2012.
Saat ini bunga KUR masih dikisaran 22 persen untuk sektor mikro, dan 13 persen untuk non mikro. Penyaluran kredit KUR cukup efektif, terbukti rendahnya kredit bermasalah yaitu di bawah 2 persen.

Penyaluran KUR saat ini mencapai Rp23 triliun. Sementara target tahun ini Rp30 triliun. "Sudah mendekati target penyaluran kredit 2012," ujarnya.
Menurutnya sejak diluncurkan 2007, penyaluran KUR terus meningkat setiap tahunnya. Program KUR  merupakan program inisiatif pemerintah untuk mendukung pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Tanah Air. Sejak disalurkan, penyaluran KUR diperkirakan mencapai Rp85 triliun.
"Awalnya akses UKM untuk mendapatkan kredit perbankan masih sulit," ujarnya.

Sekedar informasi, sejumlah bank pelaksana program KUR  antara lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Bank Bukopin Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank BNI Syariah, dan 26 Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Sumber :
http://jurnalukm.wordpress.com
http://www.bisnisaceh.com/keuangan/menkop-bunga-kur-tinggi-tak-masalah-bagi-ukm/index.php

TEMA

Tema : Perbankan dan UKM

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengkontribusi 53 persen dari produk domestik bruto (PDB) tahun 2009. Ini angka yang sangat signifikan. Wajar bila sektor UMKM disebut-sebut paling penting dalam menggerakan perekonomian nasional. Sedangkan Bank sebagai salah satu lembaga pemerintah bertugas sebagai penyalur dana bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tersebut.

Senin, 22 Oktober 2012

Jurnal 3

Menko Hatta Tidak Bangga RI Punya 51 Juta UMKM

Mengapa dengan angka unit UMKM besar tetapi bangsa Indonesia belum bisa bersaing?
Jumat, 3/9/2010: Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, mengaku tidak bangga memiliki UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) sebanyak 51,3 juta. Pasalnya, meski jumlah unit usaha sebanyak itu Indonesia belum masuk kategori negara maju.
“Ini perlu dikritisi mengapa dengan 51,3 juta unit usaha, negara kita belum baik,” ujar Hatta saat membuka Rakornas Kadin Indonesia bidang UMKM dan Koperasi di Jakarta Convention Center, Jumat, 3 September 2010. Karena secara teori, negara maju dan kuat ekonominya apabila masyarakatnya lebih dari 4 persen adalah entrepreneur.
“Rasanya kita sudah lebih dari 4 persen, lalu kenapa belum? Kesalahan ada di mana, apa mereka ini buka entrepreneur,” ujar Hatta melontarkan pertanyaan. Alasan itulah yang membuat pemerintah belum senang dengan adanya 51,3 juta unit UMKM.
“Secara statistik angkanya OK, tapi itu tidak membuat kita senang,” ujarnya. “Apa kita happy? Belum,” ujar dia. Hatta bertanya mengapa dengan angka unit UMKM sebesar itu dan ekonomi tumbuh besar, tetapi bangsa Indonesia tetap belum bisa bersaing?
Hatta berteori bahwa ada yang salah dalam sistem usaha dan pemerintahan yang sedang berjalan. Meski belum dijawab penuh, dugaan sementara ada bagian kosong di tengahnya entah dalam kebijakan atau dukungan pengusaha untuk membuat negara ini maju. Untuk itu, ia menekankan adanya kolaborasi antara kedua belah pihak, antara pengusaha dan pemerintah guna lebih baik.
“Kami terus mendorong pengusaha baru dan harus ada keberpihakan. Kalau dulu sifatnya person to person, sekarang lebih ke kebijakan. Jadi kebijakan itu bisa jalan atau tidak, itulah yang dinilai,” katanya.
Menurut Hatta, harusnya dengan 51,3 juta UMKM, setidaknya ada 90 juta lapangan kerja atau hampir setengah penduduk Indonesia sudah dalam kondisi baik.
Namun, dia mengakui kuatnya kondisi ekonomi lantaran ditopang oleh UMKM. Ini bisa dilihat pada saat krisis lalu. “Di mana ekonomi dunia sedang kontraksi dan ekspor kita minus 13 persen, tapi secara nasional ekonomi kita masih ditopang oleh UMKM,” ujarnya.
Sumber: Vivanews, Smecda.

Jurnal 2

BI: Capai Rp655T, Kredit UMKM Terus Tumbuh

Jumat, 7 Agustus 2009: Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit UMKM di Indonesia malah tumbuh di tengah kondisi krisis keuangan global.
“Penyaluran kredit UKM sekitar Rp655 triliun. Pertumbuhannya karena UMKM, utamanya di bank persero, di mana sektor ini jadi pionir,” ujar Kabiro Stabilitas Sistem Keuangan BI Wimboh Santoso, Kepala Biro Kebijakan Moneter BI Sudarsono, saat Workshop Wartawan Ekonomi, Moneter, dan Perbankan, di Hotel Savoy Homan, Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/8/2009).
Kendati sektor UMKM naik, tidak demikian dengan kredit korporasi yang menurun. Di samping itu pertumbuhan kredit dilihat dari faktor suplai dan deman. “GDP turun dari 6,1 persen ke 4,4 persen automatis aktivitas ekonomi juga turun. Maka permintaan kredit pasti turun,” jelasnya.

Jurnal 1

BNI Fokus di Kredit Infrastruktur, Agresif di UKM

September 10, 2010 by jurnalukm
Senin, 29 Maret 2010: BNI fokus di kredit infrastruktur, agresif di UKM. Semester I-2010, penyaluran kredit BNI turun 7% menjadi Rp25T. Tetapi kredit UKM tumbuh 11% menjadi Rp27T. Berikut ini posisi penyaluran  kredit BNI untuk sektor usaha mikro (Unit Layanan Modal Mikro):
  • Rp300M melalui PNM. Total yang telah disalurkan melalui PNM untuk semua sektor ekonomi, Rp385M.
  • Kredit mikro ke BPR dan koperasi (1.244 koperasi) per 2009, Rp3,59T (338.765 usaha mikro).
Sumber: Diolah dari berbagai sumber oleh Alex.